

BOGOR – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa perang merupakan tindakan destruktif yang harus dihindari dalam peradaban manusia. Namun, di sisi lain, Indonesia tetap harus mempersiapkan diri agar tidak menjadi korban dalam dinamika global.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam forum diskusi “Presiden Menjawab” bersama jurnalis senior dan pengamat di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (17/03/2026).
“Perang itu destruktif. Perang itu sangat jahat dan harus kita hindari dalam segala kondisi,” tegas Prabowo.
Sejarah Membuktikan Perang Membawa Kehancuran
Menurut Prabowo, sejarah panjang umat manusia menunjukkan kecenderungan konflik dan peperangan yang selalu berujung pada kehancuran.
Ia menilai, perang bukan hanya merusak secara fisik, tetapi juga menghancurkan peradaban dan masa depan bangsa.
Indonesia Harus Siap, Jangan Terlalu Naif
Meski menolak perang, Prabowo mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh lengah dalam menghadapi potensi ancaman global.
Ia menegaskan pentingnya kesiapan nasional, termasuk dalam aspek pertahanan, agar bangsa tidak menjadi target pihak yang lebih kuat.
“Kalau kita terlalu naif, tidak mau belajar dan tidak siap menghadapi perang, kita bisa dihabisi. Itu pelajaran dari sejarah dunia,” ujarnya.
Hukum Thucydides: Realitas Dunia Internasional
Prabowo juga menyinggung konsep Hukum Thucydides, yang menggambarkan dinamika kekuatan dalam hubungan internasional.
Konsep tersebut menyatakan bahwa pihak yang kuat cenderung bertindak sesuai kepentingannya, sementara pihak yang lemah harus menerima konsekuensinya.
“Yang kuat akan berbuat sekehendaknya, yang lemah akan menderita. Itu realitas yang harus kita pahami,” jelasnya.
Keseimbangan: Damai Tapi Siap
Pernyataan Prabowo menegaskan posisi Indonesia yang mengedepankan perdamaian, namun tetap realistis dalam menghadapi dinamika geopolitik global.
Dengan pendekatan tersebut, Indonesia diharapkan mampu menjaga kedaulatan sekaligus berkontribusi pada stabilitas dunia.
