
LAMPUNG – Ketua Komisi IV DPRD Kota Bandar Lampung, Asroni Paslah, menyampaikan sikap tegas menanggapi pemberitaan mengenai tingginya kasus HIV di Kota Bandar Lampung. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan peringatan serius yang menuntut respons kebijakan yang lebih kuat, sistematis, dan berdampak nyata.
“Tingginya angka kasus HIV ini tidak boleh dinormalisasi. Ini adalah alarm keras bagi tata kelola kesehatan masyarakat yang harus dijawab dengan langkah luar biasa,” ucap Asroni Paslah. Jum’at (20/02/2026).

Komisi IV DPRD Kota Bandar Lampung menilai bahwa penanganan HIV/AIDS harus melampaui rutinitas program seremonial. Pemerintah daerah didorong untuk memperkuat strategi preventif, memperluas cakupan deteksi dini, memastikan kesinambungan terapi ARV, serta membangun ekosistem edukasi publik yang efektif dan berkelanjutan.
“Kami mengingatkan bahwa pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS bukan sekadar tanggung jawab teknis Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, tetapi menjadi tanggung jawab kolektif pemerintah daerah. Dibutuhkan integrasi dengan sektor pendidikan, sosial, kepemudaan, hingga pendekatan berbasis komunitas,” ujarnya.
Komisi IV DPRD Kota Bandar Lampung menegaskan komitmen untuk memperketat fungsi pengawasan terhadap implementasi program Penanggulangan HIV/AIDS, mendorong penguatan kebijakan dan regulasi daerah yang lebih adaptif dan progresif, mengawal efektivitas anggaran kesehatan, agar benar-benar menyentuh aspek pencegahan dan layanan, dan menuntut perluasan edukasi dan sosialisasi yang terukur, bukan sekadar formalitas kegiatan.
Selain itu, Asroni Paslah menekankan pentingnya pendekatan yang berimbang antara ketegasan kebijakan dan perlindungan kemanusiaan.
“Kita harus tegas pada kebijakan dan strategi, namun tetap humanis terhadap ODHA. Negara hadir untuk melindungi, bukan menstigma,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak memandang isu HIV/AIDS dengan kacamata moralistik semata, melainkan sebagai persoalan kesehatan publik yang membutuhkan literasi, empati, dan tindakan preventif.
“Jika kita abai hari ini, maka beban sosial, ekonomi, dan kesehatan di masa depan akan jauh lebih berat,” jelasnya. (NR/N)
