
LAMPUNG – Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Lampung, Febrizal Levi Sukmana, menilai kehadiran layanan taksi listrik Green Taxi berpotensi mendukung pariwisata dan perekonomian daerah. Tetapi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) masih terbatas. Selasa (13/01/2026).
“Dari sekitar 44 unit yang ada, sebanyak 40 unit dikelola PLN dan sisanya oleh pihak swasta.” ungkapnya.
Menurut Febrizal, keberadaan layanan taksi listrik juga membuka peluang lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
Selain itu, keterlibatan badan usaha milik daerah (BUMD) memungkinkan pengembangan infrastruktur pendukung, seperti SPKLU.
Ke depan, jumlah SPKLU diperkirakan bertambah seiring meningkatnya kebutuhan, meski animo masyarakat terhadap kepemilikan kendaraan listrik masih relatif rendah.
Penggunaan kendaraan listrik membuat biaya operasional transportasi menjadi lebih murah dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil.
“Tarif Green Taxi relatif lebih rendah karena menggunakan energi listrik. Kalau dihitung, biaya kendaraan listrik sekitar Rp400–600 per kilometer. Sementara kendaraan berbahan bakar fosil bisa mencapai Rp1.200–1.500 per kilometer,” katanya.
Ia menyebutkan, operasional Green Taxi saat ini difokuskan di wilayah dengan aktivitas dan lalu lintas tinggi, seperti Bandar Lampung, Pesawaran, Pringsewu, dan Metro. Wilayah-wilayah tersebut dinilai strategis untuk mendukung sektor pariwisata dan mobilitas masyarakat.
Febrizal menilai salah satu keraguan masyarakat berkaitan dengan nilai jual kembali dan umur baterai kendaraan listrik. Namun, berdasarkan sejumlah kajian, kendaraan listrik dinilai lebih efisien dalam jangka panjang, khususnya jika digunakan hingga 10 tahun atau menempuh jarak sekitar 150 ribu kilometer.
“Pada akhirnya pilihan tetap kembali ke masyarakat. Tapi secara perhitungan, kendaraan listrik lebih hemat,” ujar Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Lampung. (BY/N)
